Senin, 23 Mei 2011

ANTARA AKU DAN SAHABATKU

Beberapa hari ini, aku kurang bersemangat. Entah mengapa, setiap aku bertatap mata dengan sahabatku, aku ingin cepat-cepat menghindar darinya. Setiap aku pulang bersamanya, aku merasa tidak enak. Teman-temanku bertanya, ada apa denganku dan sahabatku itu? Aku pun merasa bingung. Sehari setelah itu, aku tahu ada apa dengan ku. Tenyata, sahabatku itu membuatku kecewa. Sahabat yang telah lama ku percaya hingga kini, telah membohongiku. Dia berbohong padaku dan pada dirinya sendiri. Asalkan dia mau berterus terang, aku mau memaafkannya!!!

DUNIA SIHIR

Setiap kali aku berkhayal, yang ada dibenakku adalah dunia sihir. Di dalam dunia sihir, apa saja yang engkau inginkan pasti terkabul. Hanya dengan sekali mengayunkan tongkat sihirmu, kau bisa mewujudkan apa saja. Wah..... kalau begitu di dunia sihir tidak pernah ada kesedihan. Aku jadi ingin berada di dunia sihir dan mempunyai tongkat sihir. Aku ingin membuat semua orang di dunia ini sayang padaku. Aku ingin memiliki sahabat yang banyak. Seandainya dunia sihir itu ada, aku akan menyihir dunia ini menjadi dunia yang penuh dengan kedamaian.

KURIKULUM UNTUK MELAHIRKAN GENERASI PEMBAHARU

Ungkapan “generasi pembaharu” mengacu pada generasi yang mampu memperbaharui cara kita hidup berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Keinginan akan munculnya generasi pembaharu ini terasa jelas dari banyaknya keluhan masyarakat akhir-akhir ini mengenai kelemahan-kelemahan kita sebagai bangsa.

Sekarang ini, masyarakat mengeluh tentang korupsi yang merajalela, tentang pelanggaran norma, tentang pelanggaran hukum, dan tentang pelanggaran peraturan-peraturan yang dilakukan oleh banyak pihak, termasuk mereka yang seharusnya menegakkan hukum. Kita mengeluh tentang akhlak bangsa yang merosot tajam, dan kita juga mengeluh tentang martabat bangsa yang kita rasakan makin menurun.

Ada di antara kita yang berpendapat bahwa, jalan yang harus kita tempuh untuk meningkatkan kualitas kita sebagai bangsa ialah merombak pendidikan kita secara total. Kalau ini tidak kita lakukan, kita akan terus-menerus terjebak dalam keterpurukan. Karenanya, pendidikan yang akan dilaksanakan nanti harus dirancang untuk melahirkan “generasi pembaharu”, generasi yang akan mampu menyelesaikan masalah-masalah bangsa yang terasa makin menumpuk. Pembaharuan pendidikan harus mampu membina generasi mendatang menjadi manusia-manusia dengan karakter yang kuat, memiliki jati diri yang jelas, dan dengan kemampuan-kemampuan terkait dengan masalah-masalah bangsa yang kita hadapi, baik masalah-masalah masa sekarang, maupun masalah-masalah di masa datang.

Lantas bagaimana melakukan pembaharuan pendidikan ini? Dan bagaimana bentuk dan susunan kurikulum untuk pendidikan seperti itu? Terdapat beberapa langkah yang harus kita tempuh untuk menilai kurikulum yang akan datang nanti. Pembicaraan ini akan mencakup tiga hal, yaitu: (1) mempelajari implikasi-implikasi dari segenap keinginan masyarakat bagi revisi kurikulum pada khususnya, dan bagi pembaharuan pendidikan pada umumnya, (2) mempelajari kelemahan-kelemahan dalam kurikulum sekarang ini, yang kita pandang telah turut melahirkan berbagai kekurangan pada bangsa kita, (3) mempelajari keharusan-keharusan yang tidak dapat dihindari dalam setiap penyusunan kurikulum.

Berbekal ketiga pengetahuan atau tilikan ini akan mungkin bagi kita untuk menilai secara adil dan benar, sampai di mana kurikulum baru nanti berhasil menampung aspirasi-aspirasi masyarakat yang ada sekarang ini. Misalnya kalau ternyata nanti, masyarakat menghendaki agar generasi pembaharu kelak memiliki daya saing yang tinggi, sampai di mana kurikulum baru nanti benar-benar memberikan tempat kepada program pendidikan yang memupuk kemampuan bekerja sama dan bersaing?

Atau, kalau masyarakat ternayata menginginkan dalam kurun waktu 15 tahun yang akan datang para pelaku politik muda kita memiliki sifat-sifat kenegarawanan yang lebih tinggi daripada yang diperlihatkan oleh generasi sekarang ini, apakah keinginan ini cukup ditampung oleh kurikulum yang baru nanti? Hal ini akan dapat kita lihat, antara lain dari materi yang ditentukan dalam kurikulum baru nanti untuk mata pelajaran kewarganegaraan (civic education).

Kita akan dapat memeriksa, apakah kurikulum baru nanti masih mencantumkan materi pelajaran yang pada dasarnya adalah materi indoktrinasi, ataukah sudah mulai memasukkan materi yang akan mendorong para siswa untuk melihat kehidupan politik di masyarakat dengan perspektif good governance.

Meskipun dalam hubungan ini perlu kita sadari, bahwa persoalannya tidaklah sesederhana seperti yang dicerminkan oleh contoh-contoh dan urian-uraian di atas. Dalam praktek proses pembaharuan kurikulum jauh lebih pelik, jauh lebih sulit daripada kesan yang keluar dari uraian-uraian di atas. Yang dapat kita lakukan sekarang ini ialah mengusahakan agar keinginan-keinginan masyarakat tentang masa depan bangsa terkomunikasikan dengan baik kepada pihak-pihak yang akan terlibat dalam penyusunan strategi pendidikan dan pembaharuan kurikulum nanti.

Keinginan masyarakat akan munculnya kehidupan bermasyarakat yang lebih santun, misalnya, perlu dipahami oleh para penyusun kurikulum baru. Pada gilirannya mereka ini harus mengusahakan, agar keinginan-keinginan tadi tertampung secara memadai dalam kurikulum yang akan datang.

Begitu pula halnya dengan aspirasi masyarakat mengenai peningkatan kualitas bangsa di masa depan. Yang harus kita lakukan nanti ialah mengkaji, sampai di mana kurikulum yang baru nanti memuat komponen-komponen untuk meningkatkan kecerdasan generasi mendatang, ketrampilan, etos kerja, serta ketaatan mereka terhadap norma, hukum, dan ketentuan-ketentuan lain tentang cara hidup secara demokratis dalam masyarakat yang majemuk ini.

Dalam praktek nanti, semua jenis keinginan ini harus diterjemahkan terlebih dahulu menjadi seperangkat ketentuan dasar (proposisi-proposisi) tentang pendidikan yang akan dilaksanakan. Ketentuan-ketentuan dasar atau proposisi-proposisi ini kemudian harus disaring melalui suatu kriteria untuk menentukan, ketentuan mana yang dapat segera dilaksanakan, dan ketentuan mana pula yang sebaiknya ditunda pelaksanaanya. Dan akhirnya proposisi-proposisi yang lolos dari penyaringan ini akan dijadikan pedoman dalam pembaharuan atau penyusunan ulang kurikulum.

Idealnya, pekerjaan menyusun kurikulum dimulai setelah terdapat gambaran yang jelas mengenai sosok manusia yang diharapkan akan muncul dari proses pendidikan. Pada taraf pemikiran kita sekarang ini gambaran tentang sosok “manusia Indonesia pembaharu” ini belum terbentuk secara cukup jelas dalam pikiran kita. Begitu pula, gambaran tentang strategi pendidikan yang akan kita tempuh untuk melahirkan generasi pembaharu nanti belum terumuskan secara lengkap. Kita semua masih meraba-raba, dan pikiran-pikiran yang telah muncul di sana-sini dalam hubungan ini masih terlalu terpecah-pecah, belum merupakan suatu gambaran dan gagasan yang bulat dan utuh.

Membentuk citra yang cukup jelas tentang sosok manusia Indonesia pembaharu ini memerlukan waktu dan pemikiran bersama yang kuat serta mendasar. Begitu pula penggarisan strategi pendidikan yang akan kita tempuh. Ini juga akan menuntut adanya pemikiran bersama yang mendasar pula. Jadi dalam taraf pemikiran kita sekarang ini terlampau dini rasanya untuk berbicara secara final, bagaimana seyogianya kurikulum yang ada sekarang ini diperbaharui, dan bagaimana pula seharusnya struktur, komposisi, dan himpunan materi dalam kurikulum baru nanti.

Jadi, apa yang dapat kita lakukan sekarang? Menyusun kurikulum baru atau memperbaharui kurikulum yang ada sekarang ini bukan tugas kita. Tugas kita sebagai warga negara yang peduli dengan masa depan bangsa ialah menyalurkan keinginan-keinginan masyarakat mengenai kurikulum baru ini. Untuk melakukan hal ini kita tidak harus menunggu sampai kita selesai dengan diskusi-diskusi kita tentang manusia Indonesia dan tentang strategi pendidikan baru. Yang harus kita usahakan ialah agar daftar keinginan tidak mengandung hal-hal yang tidak mungkin terpenuhi.

Saking rumitnya masalah tentang merumuskan kurikulum ini, sampai-sampai muncul berbagai macam pendapat. Ada yang berpendapat bahwa, harus diciptakan kurikulum baru yang berbeda secara radikal dari kurikulum yang ada sekarang ini. Buang saja kurikulum yang hanya memperbodoh bangsa ini! Ada yang mengatakan, bahwa untuk melahirkan generasi yang bermoral, pendidikan agama harus diperbanyak. Kalau ini tidak dilakukan, maka yang akan lahir di kemudian hari ialah generasi yang sama bejatnya dengan generasi sekarang ini: tidak bermoral, tidak mau turut memberantas korupsi, tidak memiliki rasa kebangsaan, dan sebagainya.

Pada dasarnya semua pendapat di atas mengacu pada satu kesimpulan bahwa, kurikulum baru nanti harus berbeda dari kurikulum yang ada sekarang ini! Tapi sampai seberapa besar perbedaan itu? Apanya yang harus berbeda? Strukturnya, komposisi mata pelajarannya, atau alokasi waktu untuk berbagai kelompok mata pelajaran? Karena bagaimanapun bentuk perbedaan itu, kurikulum baru nanti akan harus tetap mengandung beberapa jenis matapelajaran yang ada dalam kurikulum sekarang ini, dan juga dalam kurikulum-kurikulum sebelumnya.

Satu hal yang penting, apapun bentuk perubahan atau revisi itu harus tetap dilakukan untuk menciptakan kesinambungan antara kurikulum masa lalu dengan kurikulum masa sekarang, dan kurikulum masa depan.

Pada taraf pemikiran kita sekarang ini, masih susah untuk mentukan, apa saja yang harus berubah, dan apa saja yang tidak perlu dan tidak boleh berubah. Perubahan-perubahan kurikulum tidak dapat dilakukan berdasarkan perintah-perintah politik. Tidak dapat dilakukan juga berdasarkan keinginan-keinginan atau impian-impian masyarakat semata-mata! Seperti dikatakan di atas, apa yang akan terjadi ialah bahwa perintah-perintah politik dan keinginan-keinginan masyarakat itu akan harus diterjemahkan dahulu ke dalam suatu strategi pendidikan, dan dari strategi ini pada akhirnya harus disusun berdasarkan ketentuan-ketentuan mengenai pembaharuan kurikulum.

Apa yang dapat kita lakukan pada taraf pemikiran sekarang ini ialah mengidentifikasikan unsur-hnsur apa saja dalam kurikulum sekarang yang dapat dipandang sebagai hal yang turut menyebabkan muculnya sifat-sifat kurang baik yang menjadi penyakit dari generasi sekarang ini. Misalnya kalau dikatakan, bahwa kita sebagai bangsa kurang disiplin, bersifat korup, dan kurang bertanggungjawab, maka pertanyaannya ialah apa saja dalam kurikulum kita dahulu yang telah membiarkan lahirnya sifat-sifat tercela ini pada generasi bangsa kita sekarang?

Ini bukan pertanyaan yang mudah. Tetapi setidak-tidaknya dengan cara ini akan ada sesuatu yang dapat kita katakan. Kalau kita cari secara sungguh-sungguh, akan dapat kita katakan bahwa, salah satu sebabnya karena kurikulum kita dari dahulu sampai sekarang tidak cukup memberikan tekanan kepada pendidikan untuk memahami dan mentaati norma-norma.

Secara umum dapat dikatakan bahwa, kurikulum yang ada dahulu dan sekarang ini selalu menekankan penguasaan pengetahuan faktual, tetapi tidak cukup memberikan tekanan dan cenderung mengabaikan masalah pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai. Ini dapat kita katakan, karena kita tahu, bahwa moralitas atau ketaatan kepada norma-norma merupakan bagian dari pendidikan tentang nilai-nilai. Pendidikan nilai (value education) selama kurun waktu yang cukup lama telah diabaikan dalam kurikulum kita. Dahulu sekali tidak demikian halnya, dan kita harapkan di masa depan kelalaian kurikuler tidak terulang kembali.

Dengan pandangan ini kita peroleh sebuah pegangan atau rambu-rambu untuk mengevaluasi kurikulum yang diperbaharui nanti. Penilaian seluruh kurikulum yang telah diperbaharui nanti akan memerlukan rambu-rambu seperti ini dalam jumlah yang lebih banyak lagi. Makin banyak pegangan atau rambu-rambu yang dapat kita kembangkan, akan makin baik pula cara kita menilai kurikulum baru nanti. Keseluruhan rambu-rambu ini harus kita himpun dari hasil penelusuran faktor-faktor kurikuler yang turut melahirkan berbagai kelemahan bangsa yang kita rasakan sekarang ini.

Dengan berpedoman kepada rambu-rambu ini kita tidak akan terjerumus ke dalam penilaian yang tidak adil, penilaian yang sewenang-wenang. Kita dengan adil akan dapat menjawab dengan baik pertanyaan-pertanyaan mengenai kesalahan-kesalahan atau kekurangan-kekurangan dalam pendidikan terkait kurikulum di masa lampau.

Konsep “watak bangsa” tidak hanya mengacu kepada ketaatan suatu bangsa kepada nilai-nilai, tetapi juga mengacu kepada perilaku bangsa dalam menjemput masa depannya. Bangsa Korea dipandang oleh masyarakat dunia sebagai bangsa yang berwatak, karena bangsa ini telah memperlihatkan kemampuannya untuk membina masa kini yang lebih baik daripada masa lampau mereka. Dan dunia percaya, bahwa bangsa Korea ini akan mampu mengangkat diri mereka di masa depan dalam pergaulan antar bangsa.

Begitu pula halnya dengan bangsa Jepang dan Cina. Bangsa Indonesia pernah pula tercatat sebagai bangsa yang berwatak, yaitu mulai dari generasi penggerak kesadaran bangsa, misalnya pada generasi Budi Utomo tahun 1908 sampai dengan generasi 1945. Tetapi watak bangsa ini sedikit demi sedikit menjadi luntur dengan datangnya perubahan-perubahan yang tidak kita pahami, dan kemudian menimbulkan perilaku bangsa yang mencerminkan berbagai ketidakmampuan. Kita telah kehilangan watak kita sebagai bangsa pejuang.

Berdasarkan analisa sederhana ini dapat disimpulkan, bahwa pendidikan untuk membina watak bangsa tidak cukup dilakukan dengan menyelenggarakan pelajaran tentang nilai-nilai luhur, akhlak mulia, disiplin, dan sebagainya. Pendidikan untuk membina watak bangsa mengharuskan adanya tiga hal, yaitu: (1) pendidikan untuk secara kolektif mengenali, menghayati,dan mengamalkan nilai-nilai, (2) pendidikan untuk secara kolektif membayangkan masa depan, dan (3) pendidikan untuk secara kolektif membulatkan tekad membina masa depan sesuai dengan apa yang dibayangkan tadi.

Kalau kita dahulu pernah mempunyai sistem pendidikan yang mampu melahirkan generasi-generasi yang berwatak, kemudian kita terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan pendidikan yang membuat watak bangsa menjadi luntur, bagaimana sekarang caranya menghidupkan kembali praktek-praktek pendidikan yang akan menumbuhkan kembali watak bangsa ini pada generasi-generasi mendatang? Bagaimana wujud dan bentuk kurikulum untuk pendidikan seperti ini?

Artinya, pembaharuan kurikulum harus dilakukan dalam rangka kesinambungan antara kurikulum masa lalu, kurikulum masa sekarang, dan kurikulum masa depan. Revisi atau pembaharuan kurikulum tidak pernah dimulai dari titik nol!

BERCOCOK TANAM SECARA HIDROPONIK

Hidroponik adalah cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai medianya. Di Indonesia sistem ini mulai berkembang dan diminati masyarakat pada tahun delapan puluhan. Hidroponik berasal dari bahasa Yunani hydro= air dan phonos= kerja. Artinya, kerja menumbuhkan tanaman dengan media air yang telah diberi larutan hara. Pada mulanya sistem ini hanya digunakan sebagai penelitian laboratorium di negara-negara maju.

Dalam perkembangan selanjutnya, sistem hidroponik tidak hanya menggunakan air sebagai media, tetapi dapat pula menggunakan media lain seperti pasir, pecahan genting, kerikil, potongan ijuk, potongan sabut kelapa, batu apung atau spons. Berdasarkan media tanam yang dipakai, ada tiga metode berhidroponik, yaitu pertama kultur air, kedua kultur pasir, dan ketiga kultur bahan berpori. Di Indonesia, metode kedua dan metode ketigalah yang paling banyak digunakan. Hidroponik tanaman hias, sayuran, atau tanaman buah-buahan dapat dilakukan dalam pot, menggunakan polibeg atau ember plastik. Sedangkan perkebunan sayuran hidroponik yang diusahakan secara besar-besaran dilakukan dalam ruang yang atapnya ditutup dengan plastik, dengan paranet atau di dalam rumah kaca.

Saat ini sistem hidroponik telah diterapkan secara luas baik di negara maju maupun di tanah air kita. Budidaya dengan cara ini dapat dilakukan oleh setiap orang. Ada yang hanya melakukan sebatas untuk menyalurkan hobi. Ada juga yang berhidroponik sebagai usaha sampingan berskala kecil, atau sebagai usaha intensif berskala besar yang bersifat komersial.

Bagaimana cara berhidroponik tanaman dalam pot? Cucilah akar bibit tanaman secara hati-hati agar bersih dari tanah. Isi pot dengan media misalnya kerikil sampai seperempatnya untuk dudukan akar tanaman. Bibit tanaman diletakkan dan ditimbun media sehingga tanaman tegak berdiri. Isikan air sampai seperempat pot. Setelah tiga atau empat minggu akar tanaman sudah melekat pada media. Air segera dibuang lalu diganti dengan larutan pupuk. Pupuk bisa dibeli di toko yang menjual sarana pertanian, atau bisa juga meramu sendiri. Selanjutnya pemupukan dilakukan seminggu sekali.

Bisnis rental tanaman hias hidroponik kini sedang marak terutama di kota-kota besar. Konsumennya adalah kantor-kantor, bank, yang memerlukan hadirnya tanaman hias demi terciptanya suasana yang sejuk dan asri. Tanaman hias hidroponik menjadi sangat populer karena lebih bersih dan lebih higienis. Pecinta tanaman hias tidak lagi merasa takut menemukan cacing atau menghirup bau tak sedap dari kompos atau pupuk kandang seperti halnya pot bermedia tanah.

Bob Sadino seorang pakar agribisnis menghidroponikkan ladang sayuran yang luasnya berpuluh-puluh hektar. Ada jenis sayuran yang tumbuh dalam pot, tetapi ada juga yang di bedeng-bedeng dengan media pasir dan atapnya ditutup plastik atau dalam rumah-rumah kaca. Jenis sayur yang ditanam dipilih nilai yang memiliki nilai ekonomis tinggi seperti: brokoli, paprika, kol merah, okra sampai kangkung. Ada sekelompok orang yang hanya mau makan sayuran bila ditanam secara hidroponik, karena bebas peptisida walaupun harganya lebih mahal. Di pasar swalayan produk hidroponik di tempatkan pada tempat yang spesial.

Tanaman buah hidroponik, banyak dibudidayakan dengan tujuan untuk dinikmati keindahannya terutama saat berbuah. Kelebihan tanaman buah secara hidroponik selain bersih dan mudah dipindah-pindahkan, juga bisa dipacu pembuahannya sesuai kehendak pemilik meskipun tidak sedang musim, sehingga berbuah terus menerus.

Keuntungan Hidroponik. Dibandingkan menanam tanaman di tanah, hidroponik mempunyai beberapa keuntungan. Tanaman hidroponik dapat diletakkan dalam rumah atau bangunan tumbuh, karena kebersihannya terjaga. Dalam industri hortikultura, tanaman hidroponik memberikan produktivitas relatif tinggi, menghemat lahan penanaman, dan biaya perawatannya kecil. Selain itu, tanaman hidroponik juga tidak dipengaruhi iklim, sehingga tanaman ini dapat berbuah terus-menerus, serta terhindar dari erosi dan kekeringan. Akhirnya, bertanam cara hidroponik dapat memberikan kemungkinan adanya penghijauan lingkungan pada daerah yang tidak memungkinkan bercocok tanam, misalkan di kota besar yang lahannya terbatas karena tertutup bangunan pencakar langit atau di daerah yang persediaan airya kurang.

Remaja yang mempunyai hobi tanam-menanam dapat mencoba sistem ini. Siapa tahu kelak menjadi pengusaha rental tanaman hias yang belum ada di kota Anda. Atau dapat pula menyemarakkan suasana di rumah dengan percobaan tanaman hidroponik dalam pot, agar suasana rumah lebih asri.

Marilah kita sukseskan program pemerintah untuk menghijaukan lingkungan dengan bercocok tanam secara hidroponik.